Kapuas Hulu post authorKiwi 24 Mei 2026

Pak Safii dan Pomad Madu dari Hutan Nanga Lauk

Photo of Pak Safii dan Pomad Madu dari Hutan Nanga Lauk

KAPUAS HULU, SP - Kabut tipis masih menggantung di tepian Sungai Embaloh ketika Pak Safii berjalan perlahan menuju kawasan hutan Desa Nanga Lauk, Kecamatan Embaloh Hilir, Kabupaten Kapuas Hulu.

Suara burung dari balik pepohonan bersahutan dengan desir angin pagi yang menerobos rimba. Di tempat itulah, kehidupan masyarakat Desa Nanga Lauk tumbuh dan bertahan sejak lama.

Bagi Pak Safii, hutan bukan sekadar hamparan pohon yang berdiri rapat di pedalaman Kalimantan. Hutan adalah dapur kehidupan.

Dari sanalah masyarakat memperoleh madu, ikan, air bersih, hingga penghasilan untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
“Kalau hutannya rusak, habis juga kehidupan kami,” ujar Pak Safii sambil memandang rimbun pepohonan di hadapannya.

Kalimat itu menjadi pegangan masyarakat yang tergabung dalam Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Lauk Bersatu.

Selama bertahun-tahun mereka menjaga kawasan hutan desa seluas 1.430 hektare melalui semangat Rimba Pakai Pengidup, sebuah cara pandang bahwa hutan dipakai untuk kehidupan, bukan untuk dihabiskan.

Di desa yang berada jauh di pedalaman Kapuas Hulu itu, masyarakat justru menemukan cara baru menjaga hutan: mengubah hasil alam menjadi produk bernilai ekonomi tanpa merusak rimba.
Nama Nanga Lauk sudah lama dikenal sebagai salah satu penghasil madu hutan terbaik di Kapuas Hulu.
Saat musim panen tiba, warga masuk ke hutan untuk mengambil madu dari sarang lebah liar yang menempel tinggi di pohon-pohon besar.

Pekerjaan itu tidak mudah. Mereka harus memanjat pohon puluhan meter dengan peralatan sederhana.

Namun bagi masyarakat setempat, pekerjaan tersebut sudah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun.

“Kami tidak pernah mengambil semuanya. Sarang tetap disisakan supaya lebah tetap datang lagi,” kata Pak Safii.
Cara panen yang tetap menjaga habitat lebah membuat madu hutan Nanga Lauk memiliki kualitas yang baik.

Melalui pendampingan dari People Resources and Conservation Foundation Indonesia atau dikenal dengan nama lokal Yayasan Pelestari Ragamhayati dan Cipta Fondasi Indonesia (PRCF Indonesia) dan dukungan permodalan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank BRI berhasil membantu kelompok tani hutan di Desa Nanga Lauk, Kapuas Hulu, meningkatkan produksi, kemasan, dan pemasaran.

Transformasi ini membuat madu hutan Nanga Lauk bernilai jual premium dan menjadi primadona hingga menembus pasar nasional dan internasional.

Madu yang sebelumnya hanya dijual seadanya kini diproses lebih higienis dengan pengemasan modern dan pengawasan kadar air sesuai standar SNI.

Madu hutan dari desa itu telah dipamerkan dalam MUSIAD Expo 2022 di Istanbul, Turki. Produk dari pedalaman Kapuas Hulu itu tampil bersama berbagai hasil perhutanan sosial Indonesia lainnya.
Bagi masyarakat desa, keikutsertaan dalam pameran internasional tersebut menjadi kebanggaan besar.

“Tidak pernah terpikir madu dari kampung kami bisa sampai dipamerkan di luar negeri,” ujar Hariska, salah seorang anggota LPHD Lauk Bersatu.

Namun masyarakat Nanga Lauk tidak berhenti hanya menjual madu dalam botol.

Mereka mulai memikirkan cara agar hasil hutan bisa lebih dekat dengan kebutuhan generasi muda.

Dari pemikiran itulah muncul ide membuat pomad atau minyak rambut berbahan jelly madu hutan.

Produk itu lahir dari kreativitas masyarakat desa yang melihat anak-anak muda mulai gemar menggunakan minyak rambut untuk penampilan sehari-hari.

Madu hutan yang selama ini identik dengan minuman kesehatan kemudian diolah menjadi pomad alami dengan aroma khas dan tekstur lembut.

“Anak muda sekarang suka produk yang unik. Kami coba buat sesuatu yang berbeda dari madu hutan,” kata Pak Safii sambil tersenyum.

Pomad berbahan madu hutan itu menjadi salah satu produk baru LPHD Lauk Bersatu yang mulai menarik perhatian masyarakat. Selain memanfaatkan hasil hutan secara lebih luas, produk tersebut juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga desa.

Bagi masyarakat Nanga Lauk, inovasi itu menjadi bukti bahwa menjaga hutan tidak berarti menolak perkembangan zaman. Justru dari hutan yang lestari, mereka bisa melahirkan produk modern yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Selain pomad, LPHD Lauk Bersatu juga mengembangkan produk makanan olahan berupa kerupuk ikan dengan nama dagang “Kerupuk Ikan Kering Nyaman Bonar”.

Di rumah produksi sederhana di desa itu, para perempuan tampak sibuk menyiapkan adonan kerupuk. Aroma ikan bercampur rempah memenuhi ruangan kecil tempat mereka bekerja bersama.

Kerupuk tersebut kini dipasarkan dengan kemasan yang lebih menarik, higienis, dan modern. Produk yang dulu hanya dikonsumsi warga sekitar kini mulai dipasarkan lebih luas sebagai oleh-oleh khas Kapuas Hulu.

“Kalau dikemas bagus, orang juga lebih tertarik membeli,” ujar seorang ibu anggota kelompok produksi sambil menata kemasan kerupuk.

Bagi warga, setiap produk yang mereka hasilkan memiliki hubungan erat dengan alam yang mereka jaga. Madu berasal dari lebah liar yang hidup di hutan. Ikan diperoleh dari sungai yang tetap bersih. Semua bergantung pada kondisi alam yang masih lestari.

Karena itu, menjaga hutan menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Nanga Lauk. Anggota LPHD rutin melakukan patroli untuk memastikan tidak ada perusakan kawasan hutan desa.

Mereka menyusuri jalur-jalur rimba, memeriksa batas kawasan, sekaligus menjaga agar tidak ada penebangan liar yang mengancam habitat lebah dan sumber air warga.

“Kalau hutan hilang, madu juga hilang. Sungai rusak, ikan habis. Semua saling berkaitan,” kata Pak Safii.

Kesadaran itu tumbuh dari pengalaman hidup masyarakat yang sejak lama bergantung pada alam. Mereka memahami bahwa hutan bukan hanya milik manusia, tetapi juga rumah bagi banyak makhluk hidup lain.

Kini Desa Nanga Lauk perlahan dikenal bukan hanya sebagai penghasil madu hutan, tetapi juga desa yang mampu mengolah hasil alam menjadi produk kreatif bernilai ekonomi.

Dari madu botolan, pomad berbahan jelly madu hutan, hingga kerupuk ikan “Nyaman Bonar”, masyarakat menunjukkan bahwa desa di pedalaman pun mampu berinovasi tanpa harus merusak alamnya.

Di tengah ancaman kerusakan lingkungan yang semakin nyata, kisah Pak Safii dan LPHD Lauk Bersatu menjadi pengingat bahwa hutan yang dijaga dengan baik tidak hanya memberi penghidupan bagi manusia, tetapi juga menjaga kehidupan seluruh makhluk di dalamnya. (aep mulyanto)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda